Sosial Media Mampu Mendekatkan ‘Paslon’ dan Calon Pemilih Menjelang Pilkada

paslon dengan masyarakat

Tahun 2018 dipastikan menjadi tahun politik, karena Indonesia akan menyelenggarakan PILKADA secara serentak di seluruh Indonesia. Disamping itu, tahun ini juga akan menjadi tahun persiapan bagi para calon presiden untuk mulai mengenalkan visi misinya kepada seluruh masyarakat.

Nah, terkait soal pemilihan umum yang sudah di depan mata ini, ada sejumlah hal berbeda terkait gaya kampanye partai besar dibanding dahulu. Satu dekade lalu, kita mungkin cenderung melihat jajaran baliho, spanduk dan poster di setiap sudut jalan.

Belum lagi ketika semua kader partai mulai menggiring masa kemudian berkonvoi bersama lengkap dengan atribut partai. Di akhir perjalanan, mereka akan mengajak massa untuk berkumpul di sebuah lapangan besar untuk berorasi dan mengenalkan visi misinya.

Lalu, apakah cara ini efektif dilakukan di jaman sekarang?

Sepertinya tidak! Orang jaman sekarang cenderung lebih suka melirik gadget ketimbang baliho, poster, spanduk atau sejenisnya. Karena itulah, sosial media sudah berkembang menjadi salah satu alat kampanye yang efektif, murah dan tepat sasaran!

Mengapa Media Sosial Adalah Alat Kampanye Paling Empuk?

Trend Masyarakat Pada Era Informasi Telah Membuka Jalan Baru

Smartphone, tablet, laptop dan internet telah merubah gaya masyarakat dalam memandang informasi. Semua yang ada di dunia nyata telah juga hadir di dunia maya. Mulai dari informasi, hiburan, permainan yang membuat kecanduan seperti judi bola online, dan tentunya media sosial bisa diakses setiap saat dan begitu ramai. Sebelumnya, sosial media hanya berfungsi sebagai perantara untuk menghubungkan seseorang dengan orang lain yang jauh di sana.

Fitur-fitur sosial media seperti Facebook dan Twitter pun juga sudah semakin lengkap mulai dari fitur menampilkan post secara publik, fitur note dan juga fitur video yang memungkinkan masyarakat untuk mengakses informasi lebih luas secara personal.

Akhirnya, sosial media yang dulunya hanya berperan sebagai alat untuk mencari teman, kini sudah berubah menjadi tempat baru untuk berdiskusi dan menggali informasi tanpa batas tanpa pandang jabatan, gender hingga status sosial sekalipun. Tidak seperti kampanye konvensional yang kebanyakan dilakukan oleh kader partai saja.

Sosial Media Menyentuh Seluruh Lapisan Masyarakat

Uniknya, sosial media adalah media kampanye yang paling jitu untuk menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Kecenderungan masyarakat untuk mengakses media ini justru menjadi ladang baru untuk mensosialisasikan visi dan misi sebuah parta atau kandidat terntentu. Secara tidak langsung, efek berkampanye dengan sosial media sangatlah massive, karena semua orang bisa menjangkaunya tanpa perlu beranjak dari tempat duduk.

Kampanye Melalui Media Sosial Memiliki Efek Domino

politik media sosial

Nah, yang paling unik ketika menggunakan kampanye melalui sosial media adalah efek dominonya. Media ini menjadi alat paling empuk untuk kampanye bagi para kandidat. Visi misi lebih tersampaikan dengan baik. Sebab warga net lebih suka membacanya langsung dibandingkan harus mendengar sambil berpanas-panasan atau berdesakan ditengah kerumuman hanya untuk melihat sehebat apa visi dan misi calon.

Uniknya, kampanye melalui cara ini bersifat massive. Warga net punya kecenderungan untuk membagikan visi dan misi secara sukarela. Dengan catatan konten yang diposting berkualitas dan langsung mengena sasaran. Nyaris tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk sebuah promosi mulut ke mulut.

Hanya dengan menggerakkan jari, dipastikan program-program kampanye akan tersampaikan. Entah itu tulisan, gagasan dalam status atau video sekalipun. Ini menjadi satu hal yang mudah dan menguntungkan bagi siapa pun asalkan tahu cara meningkatkan engagement dengan user di sosmed.

Dengan beralihnya trend informasi ini, tentunya semua partai dan tokoh politik harus mulai beradaptasi agar bisa selalu terhubung dengan masyarakat. Kampanye ini justru mampu mendekatkan para calon kandidat dan calon pemilih ketimbang dengan cara konvensional. Meski demikian, sosial media masih menjadi bola salju yang terus membesar apa bila tidak dikendalikan dengan baik. Terlebih lagi soal kampanye hitam yang kerap menyerang berbagai pasangan calon.