Sumber Dana Kampanye Miliaran

kampanye

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat demokratis, itu berarti semua kekuasaan berada di tangan rakyat secara penuh. Karena itu, para pemimpin negara haruslah dipilh sesuai dengan kehendak rakyat. Seperti halnya pemilihan presiden, seluruh rakyat Indonesia berhak untuk menggunakan hak suara mereka untuk memilih presiden yang mereka inginkan.

Tentu saja untuk menarik hati para rakyatnya, pemimpin negara haruslah melakukan kampanye yang diadakan sebelum pemilihan dimulai. Dalam melakukan kegiatan kampanye, tentunya para calon pemimpin tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menarik dan meyakinkan para rakyatnya. Nah kali ini kita akan membahas dari mana sumber dana kampanye yang biasa didapatkan untuk melakukan kegiatan kampanye.

  1. Dana dari Sumbangan Partai Politik

Dalam menyelenggarakan kampanye tentunya akan ada banyak orang yang terlibat dalam hal kegiatan ini. Sumber pendanaan kampanye juga bisa berasal dari berbagai macam pihak tak hanya dari pribadi yang melakukan kampanye tersebut. Contohnya dana kampanye dapat berasal dari sumbangan partai politik. Biasanya para calon pemimpin mempunyai partai politiknya masing-masing. Nah, parpol tersebut berhak memberikan dana sumbangan untuk kampanye untuk calon pasangan pemimpin yang mereka usungkan.

  1. Dana dari Ormas atau Kelompok Tertentu

Pada dasarnya pada saat kampanye dilaksanakan, dana yang digunakan boleh berasalah dari pihak mana saja asalkan dapat dipertanggung jawabkan di akhir kampanye. Ormas atau kelompok yang aktif dalam politik juga berhak untuk memberikan sumbangan dalam bentuk apapun untuk melakukan kampanye di depan publik. Biasanya ormas merupakan pihak yang paling besar dalam hal memberikan pendanaan bagi para calon pemimpin yang mereka usung.

  1. Sumbangan dari Badan Hukum Swasta

Biasanya badan hukum swasta juga memiliki sumber pendanaan terbesar bakal kampanye calon-calon yang mereka dukung. Badan swasta boleh melakukan tindakan pendanaan asalkan memiliki dasar hukum. Namun maksimal dari jumlah pendanaan yang boleh dilakukan badan swasta adalah sebesar 750 juta rupiah.

  1. Dana Sumbangan Dari Perseorangan

Dana kampanye juga dapat diperoleh dari orang lain atau perseorangan yang ingin mengeluarkan dana mereka untuk membiayai kampanye dari calon pasangan yang mereka dukung. Dana sumbangan ini diperkenankan untuk menggunakan atas nama pribadi, bukan atas nama parpol, badan hukum, ormas, atau kelompok lainnya. Namun sumbangan dari perseorangan maksimal hanya sejumlah 75 juta rupiah per orang.

  1. Asset Pribadi dari Pasangan Calon

partai politik

Tentunya pendanaan terbesar yang paling mudah untuk digunakan adalah berasal dari asset pribadi yang dimiliki oleh setiap pasangan calon pemimpin. Mereka bisa menggunakan seluruh asset yang dimiliki untuk melakukan kegiatan kampanye semaksimal mungkin selama tidak memenuhi batas maksimal pendanaan kampanye yang diperbolehkan.

Nah itulah beberapa sumber pendanaan terbesar yang bisa didapatkan para calon pemimpin untuk melakukan kegiatan kampanye. Memang melakukan kampanye bukan merupakan hal yang mudah bagi setiap orang. Butuh effort yang sangat tinggi seperti dana yang sangat besar dalam setiap melakukan kampanye di satu daerah. Belum lagi, banyak beban-beban yang harus ditanggung para calon pemimpin jika memang pada akhirnya terpilh untuk menjadi pemimpin.

Bukan merupakan hal yang mudah juga untuk menggaet hati para rakyatnya agar percaya kepada salah satu calon pemimpin yang ada. Nah semua Dengan membaca artikel ini dapat membuat wawasan anda semakin luas dan bertambah. Jangan lupa juga untuk selalu berkontribusi dan ikut dalam pemilu bagi anda yang sudah memiliki hak suara.

Sosial Media Mampu Mendekatkan ‘Paslon’ dan Calon Pemilih Menjelang Pilkada

paslon dengan masyarakat

Tahun 2018 dipastikan menjadi tahun politik, karena Indonesia akan menyelenggarakan PILKADA secara serentak di seluruh Indonesia. Disamping itu, tahun ini juga akan menjadi tahun persiapan bagi para calon presiden untuk mulai mengenalkan visi misinya kepada seluruh masyarakat.

Nah, terkait soal pemilihan umum yang sudah di depan mata ini, ada sejumlah hal berbeda terkait gaya kampanye partai besar dibanding dahulu. Satu dekade lalu, kita mungkin cenderung melihat jajaran baliho, spanduk dan poster di setiap sudut jalan.

Belum lagi ketika semua kader partai mulai menggiring masa kemudian berkonvoi bersama lengkap dengan atribut partai. Di akhir perjalanan, mereka akan mengajak massa untuk berkumpul di sebuah lapangan besar untuk berorasi dan mengenalkan visi misinya.

Lalu, apakah cara ini efektif dilakukan di jaman sekarang?

Sepertinya tidak! Orang jaman sekarang cenderung lebih suka melirik gadget ketimbang baliho, poster, spanduk atau sejenisnya. Karena itulah, sosial media sudah berkembang menjadi salah satu alat kampanye yang efektif, murah dan tepat sasaran!

Mengapa Media Sosial Adalah Alat Kampanye Paling Empuk?

Trend Masyarakat Pada Era Informasi Telah Membuka Jalan Baru

Smartphone, tablet, laptop dan internet telah merubah gaya masyarakat dalam memandang informasi. Semua yang ada di dunia nyata telah juga hadir di dunia maya. Mulai dari informasi, hiburan, permainan yang membuat kecanduan seperti judi bola online, dan tentunya media sosial bisa diakses setiap saat dan begitu ramai. Sebelumnya, sosial media hanya berfungsi sebagai perantara untuk menghubungkan seseorang dengan orang lain yang jauh di sana.

Fitur-fitur sosial media seperti Facebook dan Twitter pun juga sudah semakin lengkap mulai dari fitur menampilkan post secara publik, fitur note dan juga fitur video yang memungkinkan masyarakat untuk mengakses informasi lebih luas secara personal.

Akhirnya, sosial media yang dulunya hanya berperan sebagai alat untuk mencari teman, kini sudah berubah menjadi tempat baru untuk berdiskusi dan menggali informasi tanpa batas tanpa pandang jabatan, gender hingga status sosial sekalipun. Tidak seperti kampanye konvensional yang kebanyakan dilakukan oleh kader partai saja.

Sosial Media Menyentuh Seluruh Lapisan Masyarakat

Uniknya, sosial media adalah media kampanye yang paling jitu untuk menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Kecenderungan masyarakat untuk mengakses media ini justru menjadi ladang baru untuk mensosialisasikan visi dan misi sebuah parta atau kandidat terntentu. Secara tidak langsung, efek berkampanye dengan sosial media sangatlah massive, karena semua orang bisa menjangkaunya tanpa perlu beranjak dari tempat duduk.

Kampanye Melalui Media Sosial Memiliki Efek Domino

politik media sosial

Nah, yang paling unik ketika menggunakan kampanye melalui sosial media adalah efek dominonya. Media ini menjadi alat paling empuk untuk kampanye bagi para kandidat. Visi misi lebih tersampaikan dengan baik. Sebab warga net lebih suka membacanya langsung dibandingkan harus mendengar sambil berpanas-panasan atau berdesakan ditengah kerumuman hanya untuk melihat sehebat apa visi dan misi calon.

Uniknya, kampanye melalui cara ini bersifat massive. Warga net punya kecenderungan untuk membagikan visi dan misi secara sukarela. Dengan catatan konten yang diposting berkualitas dan langsung mengena sasaran. Nyaris tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk sebuah promosi mulut ke mulut.

Hanya dengan menggerakkan jari, dipastikan program-program kampanye akan tersampaikan. Entah itu tulisan, gagasan dalam status atau video sekalipun. Ini menjadi satu hal yang mudah dan menguntungkan bagi siapa pun asalkan tahu cara meningkatkan engagement dengan user di sosmed.

Dengan beralihnya trend informasi ini, tentunya semua partai dan tokoh politik harus mulai beradaptasi agar bisa selalu terhubung dengan masyarakat. Kampanye ini justru mampu mendekatkan para calon kandidat dan calon pemilih ketimbang dengan cara konvensional. Meski demikian, sosial media masih menjadi bola salju yang terus membesar apa bila tidak dikendalikan dengan baik. Terlebih lagi soal kampanye hitam yang kerap menyerang berbagai pasangan calon.

Mengetahui Peta Kekuatan Pilkada Jawa Barat 2018

pilkada jawa barat

Berbicara mengenai politik Jawa Barat memang tidak lepas dari perputaran pilgub Jawab Barat sendiri tahun 2018 untuk saat ini. Jawa Barat sendiri merupakan salah satu provinsi yang memiliki kota besar seperti Bandung dan Bogor. Di tahun 2018 ini akan ada empat pasangan yang akan mencalonkan diri sebagai gubernur dan wakil gubernur.

Salah satu aspek yang dapat dijadikan tolak ukur sebagai calon gubernur dan wakil gubernur adalah dari karakter mereka sendiri sehingga calon yang sudah terkenal memiliki kinerja yang baik, mungkin jauh lebih mudah untuk mendapatkan dukungan. Lagipula, jumlah kursi legislatif pun tidak berpengaruh besar menentukkan kemenangan di eksekutif.

Di Jawa Barat sendiri menurut pengamat politik dari Universitas Padjajaran, dalam melakukan pemilihan masyarakat Jawab Barat dibagi menjadi dua yaitu kelompok tradisional dan kelompok religius. Tak lupa dalam melakukan promosi diri, calon gubernur dan wakil gubernur pun juga melakukan kampanye yang bahkan menggandeng artis-artis di Ibukota.

Berikut ini merupakan calon dan wakil gubernur yang akan maju pada pilgub 2018 yaitu.

  1. Tubagus Hasanuddin dan Irjen Pol Anton Charliyan

Tubagus Hasanuddin sendiri pernah menjabat sebagai wakil ketua komisi I DPR RI. Selain itu wakilnya yang bernama Irjen Pol Anton Charliyan adalah seorang perwira tinggi Polri dan seorang mantan Kapolda Jabar.

Pasangan ini merupakan pasangan yang tergolong baru yang diusung oleh partai PDIP. Menurut dari seorang pengamat politik dari Unpad tersebut, pasangan ini bukanlah pasangan yang mewakilkan dari kalangan religius.

Hal itu pun, tidak dilepastkan dari partai yang mengusung mereka yaitu PDIP. PDIP sendiri memiliki sejarah yang kurang mulus di Jawa Barat seperti kekalahannya pada pemilu tahun 2008.

  1. Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum

Saat ini Ridwan Kamil sendiri masih menjabat sebagai walikota Bandung untuk periode 2013 hingga 2018. Sedangkan UU Ruzhanul Ulum merupakan kader dari PPP dan pernah menjabat sebagai seorang Bupati di Tasikmalaya untuk periode 2011 hingga 2016.

Partai yang mengusung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur adalah PPP, PKB, Partai Hanura serta partai Nasdem. Menurut pengamat politik yang sama dari Unpad, pasangan ini merupakan pasangan yang diunggulkan. Hal itu tidak lepas dari rekam jejak Ridwan Kamil yang banyak memberikan gebrakan terhadap kota Bandung.

Sedangkan UU Ruzhanul yang merupakan seorang politikus PPP sendiri mewakili basis dimasa tradisional daerah priyangan sehingga cukup besar pemilihannya terutama di priyangan barat dan timur.

  1. Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi

Deddy Mizwar sendiri merupakan seorang aktor kawakan di Indonesia yang juga terjun di kancah politik di Indonesia. Deddy Mizwar sendiri menjabat sebagai wakil gubernur Jawa Barat untuk periode 2013 hingga 2018. Sedangkan Dedi Mulyadi pernah menjabat sebagai Bupati Purwakarta untuk periode 2003-2008.

Partai golkar dan partai demokrat yang merupakan pengusung pasangan ini. Deddy Mizwar sendiri menurut Firman seorang pengamat politik dari Unpad merupakan seorang yang mewakilkan sosok religius.

Sayangnya, Dedi Mulyadi sering sekali mendaatkan isu yang kurang baik pada saat menjabat sebagi Bupati untuk kota Purwakarta dimana dia memiliki masalah dengan pemilih Islam Konservatif.

  1. Mayjen (Purn) Sudrajat dan Ahmad Syaikhu

 

Mayjen (Purn) Sudrajat dan Ahmad Syaikhu

Mayjen (Purn) Sudrajat adalah seorang purnawirawan perwira TNI-AD yang pernah menjabat sebagai Dirjen Strategi Pertahanan tepatnya di departemen pertahanan. Wakilnya, yang bernama Ahmad Syaikhu merupakan wakil walikota untuk periode 2013-2018 untuk kota Bekasi.

Pasangan ini diusung oleh partai Gerindra dan PKS.

Dibandingkan dengan 3 pasangan lain, pasangan calon dan wakil gubernur ini memang kurang memiliki kepopuleran di kalangan masyarakat Jawa Barat. Oleh karena itu, ini merupakan pekerjaan berat yang harus mereka pikirkan.